Mengenal Motif Batik Nusantara (bag. 2)

Motif kawung merupakan bentuk yang ditiru dari biji buah siwalan atau pohon tal yang dibelah melintang. Pola kawung yang merupakan induk dari bentuk estetis kawung yaitu bentuk yang paling mirip dengan bentuk biji pohon enau atau pohon tal sehingga disebut kawung saja. Pola ini disusun dari bentuk pokok dan tekstur sederhana yang selalu melambangkan jumlah empat (empat bentuk yang sama) dan satu bentuk kelima (berbentuk lain) sebagai pusat atau intinya. Ide besar pola kawung ialah simbolisasi dari konsep Pancapat. Pancapat merupakan kearifan tradisional, di antaranya terdapat dalam filsafat kosmologis dan kehidupan, peraturan kenegaraan, dan politik ekonomi. Keblat papat limo pancer, artinya di mana pun kita menyebut keempat arah mata angin maka manusia selalu ada di pusatnya. Istilah lainnya yaitu sedulur papat limo pancer. Pandangan hidup tradisional ini mengandung arti bahwa setiap bayi yang lahir akan selalu bersamaan dengan empat saudara kembarnya, yaitu darah merah, ketuban, ari-ari, dan tali pusar. Keempat unsur ini diyakini akan saling mempengaruhi sampai usia tertentu. Catur Ubhaya (empat ikrar, menjalani kehidupan), artinya semua manusia pada umumnya akan sanggup menjalani empat ikrar, yakni lahir, birahi, palakrama (pernikahan), dan pralaya (mati). Empat bunyi yang tertulis pada bandul kalung punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong bila digoyang berbunyi ”neng, ning, nung, nang”. Keempat bunyi ini mengandung arti bahwa bila emosi sedang bergolak langkah mengatasinya ialah meneng (diam), karena dalam diam akan timbul keheningan sehingga pikiran menjadi wening (bening). Bila pikiran telah bening arah tindakan menjadi dunung (terarah dan masuk akal sesuai dengan kenyataan dan kemampuan dirinya). Bila tindakan terarah dengan benar maka menang (sukses) menjadi hasil akhirnya.

Jenis motif batik klasik lainnya yaitu ganggong branto, nitik truntum, pola banji, dan semen. Ganggong atau ganggang adalah tumbuhan air. Bentuk pola ganggong ini berkembang. Penampilan ganggong berubah, bahkan hilang sama sekali, tetapi karakter bentuknya tetap menunjukkan ciri pola ganggong. Bentuk polanya tidak banyak. Penampilannya kadang mirip pola ceplokan, namun jika diamati akan tampak perbedaan yang signifikan. Pola ini memiliki ciri selalu nampak adanya bentuk isen yang terdiri atas berkas garis-garis (seperti benang sari). Pola ganggong yang termasuk golongan pola geometris segi empat tersebut bentuk pokoknya adalah stilisasi dari bentuk tumbuhan air yang merupakan simbol dari kehidupan manusia yang memiliki keberuntungan, selalu terapung di atas permukaan sesuai pasang surutnya air. Pemakaian pola ganggong ini menggambarkan bahwa si pemakai memiliki watak yang baik, yaitu tidak memiliki dendam dalam konflik dan gampang berdamai. Namun, pola ini juga menggambarkan watak buruk ”ibarat kiambang,” yaitu kurang konsekuen, dan selalu berubah. Manusia memang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hubungann dengan makna filosofis kosmologis ganggang sebagai simbol kepasrahan diri yang total kepada ‘Yang Maha Kuasa dalam menghadapi nasib, kemana jiwa sesudah mati.

Motif nitik truntum sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa dan Bali. Bentuknya mirip bintang atau bunga yang mungil mekar (ceplik-ceplik) dengan delapan kelopak, ditata tersebar merata, dan kadang-kadang saling bersentuhan ujung-ujungnya. Karena rumit dan mungil, pola ini tidak dibuat dengan canting nitik, tetapi dengan canting klowong yang terkecil dan canting cecegan. Motif nitik truntum memiliki makna simbol ungkapan cinta yang tulus tanpa syarat dari seorang istri kepada suaminya, abadi, yang terasa semakin lama semakin subur berkembang (tumaruntum). Motif ini tampak seperti bintang di langit, semakin dipandang tampak semakin banyak bintang berpendaran. Ada berbagai variasi dari motif ini, tetapi penggambaran dan maknanya sama. Karena maknanya tersebut, batik dengan motif ini dikenakan oleh kedua orang tua mempelai dalam upacara panggih, dengan harapan agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua mempelai.