Mengenal Motif Batik Nusantara (bag. 1)

Nama sehelai kain batik pada umumnya diambil dari motifnya. Motif batik merupakan keutuhan dari susunan motif yang menghiasi kain batik. Biasanya motif kain batik diulang-ulang untuk memenuhi bidang kain. Batik Indonesia merupakan batik yang terdiri atas berbagai motif batik nusantara. Artinya, dalam batik Indonesia terdapat motif pilihan yang berdasarkan atas karakter motif menurut asal ragam hiasnya. Karakter motif batik nusantara dapat diambil atau dipilih dari seluruh kepulauan di Indonesia. Berikut sedikit penjelasan tentang motif batik nusantara yang dibedakan dalam dua kategori, yaitu motif batik klasik dan motif batik modern.

Motif Batik Klasik
Motif batik klasik merupakan motif batik dimana susunan motifnya berpatokan pada suatu ikatan tertentu, termasuk penyusunan isen—isennya. Selain itu, motif batik klasik adalah motif yang melimpah dengan pemaknaan dan simbol-simbol kehidupan dalam kebudayaan tertentu. Motif batik klasik adalah karya seni luhur yang lahir dari kebudayaan jawa. Motif klasik mempunyai suatu makna yang berarti bagi manusia yang dikaitkan dengan totalitas jiwa manusia. Makna motif klasik bisa membuka suatu cakrawala apabila manusia memposisikan dan membuat situasi terhadap dirinya sendiri. Motif batik pada mulanya terbentuk dari simbol-simbol bermakna yang bernuansa tradisional Jawa, Islami, Hinduisme, dan Budhisme.

Motif batik klasik dikatakan sebagai karya seni karena memiliki potensi seni rupa yang sangat tinggi. Di dalam ilmu tentang keindahan seni (estetika), ide pelahiran bentuk-bentuk dalam seni rupa adalah: naturalis, intuitif, abstraktif, arsitektoris, figuratif, dan filosofis. Munculnya bentuk motif batik klasik termasuk seni rupa dari unsur-unsur titik, garis, dan bidang, dengan ciri pelahiran meliputi bentuk abstraktif, bentuk figuratif, dan bentuk filosofis. Bentuk filosofis, ide dasar dari pelahiran bentuk pola-polanya, adalah filosofi kehidupan dan kosmologis dari seniman penciptanya. Bentuk simbolisnya sangat dipengaruhi oleh akar budaya dan pengalaman estetis penciptanya sehingga kadang bentuk simbolisnya jauh dari bentuk realita di alam nyata. Sebagai contoh motif burung huk atau phoenix, gurda, slobog, dan kawung. Motif burung huk selalu berada dalam susunan bersama motif atau pola yang lain, misalnya sebagai ceplokan dengan latar gringsing, sebagai selingan motif parang, dan dalam bentuk mozaik yang berkomposisi dengan beberapa motif lain atau berbaur dengan pola nitik. Ide dasar motif ini adalah pandangan hidup tentang ke mana jiwa manusia sesudah mati.

Demikian pula motif gurda dan slobog. Bentuk pokok motif gurda adalah seekor burung garuda yang dilihat tepat dari belakang. Motif ini merupakan motif khas batik yang banyak dikenal. Bentuk simbolik gurda diilhami oleh mitos Hinduisme, yaitu burung garuda kendaraan Dewa Wisnu, Sang Pemelihara yang bijaksana. Secara keseluruhan bentuk gurda ini merupakan simbol keperkasaan, ketabahan, tumbuh kembang manusia, dan sikap melindungi yang dilandasi oleh kebijaksanaan. Pola slobog sangat sederhana, tetapi sarat makna. Slobog merupakan pola simetris yang tersusun dari empat segitiga sama kaki yang sama dan sebangun, serta dipertemukan pada tiap-tiap puncaknya. Kain motif slobog berwarna hitam atau biru tua dan putih. Bila kain slobog berwarna soga, warna cokelat soga hanya pada konturnya. Pola ini merupakan catatan singkat dari konsep “tri atau tiga” seperti trihita karana, trimurti, dan trinitas. Kata slobog berarti masuk saling bertaut dengan pas, tidak kesempitan, dan tidak terlalu longgar. Motif ini mengandung makna bahwa untuk hidup dengan baik sebagai kawulo alit (rakyat kecil), kita harus dapat manunggal rasa dengan Gusti Allah. Caranya dengan menjalani hidup yang tidak kekurangan dan juga tidak berlebihan melainkan sesuai kebutuhan dan kemampuannya.