Memadu Padankan Batik Dengan Bahan Lain

Sebagian besar yang kita lihat sampai hari ini, bahan batik murni dibuat atasan dan dipadukan dengan bawahan polos atau sebaliknya. Padu padan semacam ini cenderung seperti gaya seragam pegawai atau seragam sekolah. Gaya berbusana batik macam inilah yang menjadi salah satu penyebab wanita tidak percaya diri untuk memakainya. Alasan yang lain yaitu karena banyak orang memakai gaya tersebut, sedangkan wanita memiliki kecenderungan untuk selalu tampil berbeda dari kebanyakan orang. Ada juga yang beralasan bosan dengan gaya atau model yang monoton. Dalam setiap kesempatan wanita juga memiliki keinginan untuk selalu tampil berbeda. Wanita menginginkan pemetaan yang jelas antara busana kerja, busana pesta, busana santai, dan sebagainya. Selain untuk mencapai kenyamanan dalam berbusana, sudah pasti wanita ingin tampil cantik, menarik, dan menjadi pusat perhatian.

”Mengontraskan elemen yang berbeda mewakili perasaan ingin bebas dari setiap hambatan dan dari segala fashion rules yang membuat setiap orang tampak sama. Menggabungkan dan menyeimbangkan elemen yang kontras bisa menciptakan look, sebuah identitas yang membuat orang tampil berbeda dengan cara yang modern dan elegan . . . (Giorgio Armani). Pernyataan ini sangat sesuai dengan gaya hidup wanita zaman sekarang, yang bebas terbatas tentunya. Wanita sudah tidak setuju dengan batasan-batasan dan aturan yang terlalu mengikat seperti zaman feodal dan kolonial dahulu. Fenomena ini berpengaruh terhadap penampilan dan gaya berbusana wanita.

Memadukan bahan batik dengan bahan lain yang berbeda karakter merupakan ide yang sangat kreatif dalam mewujudkan gaya berbusana wanita modern. Pengolahan rancangan dengan karakter bahan yang berbeda merupakan sebuah tantangan. Tidak ada batasan dalam berkreativitas. Kita dapat bereksplorasi dengan bahan maupun desain, termasuk memadu padankan bahan batik dengan bahan lain yang berbeda karakter. Kreativitas dan inovasi semacam ini selalu dinantikan dan diharapkan mampu menjadi trend setter. Bahan batik biasanya dibuat di atas kain yang berasal dari serat alam, seperti katun dan sutra. Padahal, di pasaran ada banyak jenis tekstil, antara lain linen, rayon, tetoron, polyster, tetoron rayon, dan elastane. Untuk penampilan yang berbeda, kain batik dapat dipadu dengan bahan polos, kain lurik, kain sarung (bermotif kotak-kotak), atau dipadu dengan renda (lace).

Memadukan kain batik dengan bahan lain yang memiliki karakter berbeda membutuhkan perlakuan khusus. Bahan-bahan yang akan dipadukan harus dikoordinasikan, disesuaikan karakternya, dan diperhatikan perpaduan warnanya. Dalam hal ini kita harus mengindahkan aspek-aspek estetisnya. Aspek estetis dapat dicapai dengan mengkoordinasikan elemen-elemen desain secara tepat berdasarkan prinsip-prinsip desain. Elemen desain meliputi line (garis desain), shape (siluet mode), value (nilai desain), colour (perpaduan warna), dan texture (karakter bahan). Sedangkan prinsip desain meliputi repetition (pengulangan),gradiation (gradasi), rhytm (ritme atau irama), radiation (radiasi), harmony (keserasian), dominance (dominasi, centre of interest), proportion (proporsi), balance (keseimbangan), dan unity (kesatuan). Dengan karakter bahan yang berbeda, diperlukan feeling yang kuat dalam menuangkan ide-ide rancangan. Misalnya, bahan katun memiliki karakter yang sedikit kaku, sehingga daya langsainya kurang maksimal. Bahan seperti ini (katun polos atau motif lurik) dapat dipadukan dengan batik dari bahan serupa (katun). Perpaduan bahan ini cocok untuk dibuat pakaian dengan garis rancang yang tegas, kemudian ditambah detail bordir, sulam, pintucks, atau obnaisle. Bahan polyester seperti sifon, cocok dipadukan dengan batik dari bahan sifon pula. Padu padan ini baik untuk busana dengan garis rancang yang lembut dan feminin, dengan style lepas sehingga berkesan bebas. Bahan batik sutra mempunyai daya langsai yang bagus sehingga baik dipadukan dengan bahan-bahan yang berdaya langsai nyaris sama, seperti satin, sutra polos atau sifon. Bahan-bahan ini memiliki karakter yang hampir sama.

Tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk memadukan kain batik dengan bahan yang karakternya sangat berbeda, misalnya bahan batik sifon dengan taffeta. Bahan taffeta bisa dipakai untuk baju atau dress dan bahan sifon dibuat aksen draperi di bagian atasnya. Alternatif lain yaitu bahan batik dari katun dibuat short dress dengan short jacket polos dari bahan taffeta atau thai silk. Kain motif batik tidak terbatas pada model basic yang benar-benar polos tanpa detail. Sebaliknya, kita dapat berkreasi dengan berbagai details seperti plum, ruffles, pintucks, pleats, bordir, sulam, dan stitching dengan berbagai variasi di bagian kerah ataupun lengan.