Aplikasi Batik Sebagai Kain Ikat Lilit

Aplikasi berarti pemakaian atau penerapan. Selanjutnya, ikat lilit adalah sebuah teknik mengikat dan melilit. Jadi, aplikasi busana ikat lilit adalah penerapan sebuah kain sebagai penutup bagian tubuh dengan cara mengikat atau membuat simpul-simpul pada bagian tertentu, serta melilitkan kain pada bagian tubuh tertentu tanpa harus menjahit dan memotongnya. Selain diwujudkan dalam bentuk busana yang dijahit, aplikasi busana berbahan dasar batik juga bisa dilakukan dengan ikat dan lilit. Pemakaian busana batik tanpa jahit atau ikat dan lilit ini dalam busana tradisional jawa diterapkan pada busana model kemben, sarung, sinjang, dodot, ikat kepala, dan selendang. Sebelum mengenal lilit modern sebaiknya terlebih dahulu kita mengenal lilit yang digunakan setiap hari, baik pada masa lampau atau sekarang.

Kemben
Kemben merupakan pakaian yang digunakan wanita untuk menutupi bagian perut dan dada. Fungsi kemben untuk menahan bagian perut agar terlihat langsing.

Sarung
Sarung adalah kain batik yang digunakan sampai batas pinggang, baik oleh pria maupun wanita. Bentuk kain sarung ini adalah kain panjang yang sudah dijahit pada bagian tepi sisi kanan dan kiri kain sehingga kain berbentuk tabung. Cara pemakaian sarung pada biasanya adalah dengan cara dililitkan sesuai dengan badan si pemakai kemudian ujung atas digulung sehingga lilitan menjadi erat.

Sinjang
Sinjang adalah salah satu kelengkapan dalam busana tradisional Jawa. Sinjang dalam bahasa krama inggil disebut nyamping. Dalam bahasa Jawa ngoko disebutjarik. Sinjang berbentuk kain batik yang cara pemakaiannya dibalutkan pada tubuh dengan batas atas dada sampai pergelangan kaki. Sinjang dan dodot atau kampuh merupakan bagian busana Jawa yang sangat penting. Penggunaan sinjang tidak boleh sembarangan. Pemakaian sinjang didahului dengan membuat wiru (lipatan) pada kain batiknya. Pembuatan wiru dimulai dari ujung kain batik yang dijahit, selanjutnya dilipat bolak-balik sampai 3/4 panjang sinjang. Biasanya untuk laki-laki lebar lipatannya 7 cm atau jika diukur dengan jari, umumnya selebar 3 jari. Untuk wanita ukuran wiru biasanya 3,5 cm atau selebar 1,5-2 jari. Lipatan yang pertama dilipat ke dalam, sehingga saat dipakai garis ujung sinjang yang berwarna polos tidak kelihatan. Ini sesuai dengan wiron gaya Surakarta. Sebaliknya, wiron gaya Yogyakarta justru garis wiron diperlihatkan. Cara pemakaian sinjang yaitu dengan membalutkan sinjang pada tubuh dari kanan ke kiri. Wiru ditempatkan di tengah. Balutan bagian dalam harus lebih tinggi dari balutan luar sehingga ujung bawah sinjang nantinya tidak kelihatan karena tertutup ujung sinjang luar. Jika sinjang bermotif lereng, maka arah gambar harus miring dari atas ke bawah sisi kiri, jangan sampai terbalik. Jika motifnya ular seperti sidomukti dan sidoluhur maka arah motifnya ke atas. Jika pemakaian sinjang sudah pas maka bagian perut dikencangkan dengan stagen dan diberi sabuk. Untuk menghindari sabuk yang lepas maka sabuk diberi peniti lalu dilapisi epek timang. Pemakaian sinjang harus pas di atas mata kaki, tidak boleh terlalu tinggi atau terlalu rendah. Sebelum dikencangkan dengan stagen, sebaiknya dicoba untuk berjalan. Hal ini untuk menghindari sinjang yang terlalu sempit, sehingga menyusahkan pemakai saat berjalan. Bagian atas wiru bisa dijepit atau ditali terlebih dahulu agar tidak lepas (udar), dan dilepaskan kembali setelah Pemakaian selesai.

Dodot
Dodot atau kampuh adalah kain penutup. Jika dipakai oleh pria, digunakan sebagai lapisan atas celana. Oleh wanita dodot dipakai sebagai lapisan di atas kain panjang. Dodot atau kampuh sebagai busana wanita juga dipakai sebagai penutup dada. Istilah kampuh diperuntukkan bagi raja dan abdi dalem tingkat tinggi. Selanjutnya, abdi dalem panewu ke bawah menggunakan istilah dodot. Ada pula jenis dodot yang lain, yaitu sinjang dodot. Sinjang dodot atau kampuh lebih panjang empat kali panjang sinjang biasa. Dodot atau kampuh ini juga merupakan busanajawa (ukuran sinjang biasanya 110 cm X 260 cm). Dodot atau kampuh mempunyai simbol kesusilaan. Kain batik yang semula berwujud lembaran sederhana, kemudian dilipat-lipat menjadi satu. Maknanya yaitu manusia yang semula remaja akan tumbuh menjadi dewasa. Saat ini sinjang dodot atau kampuh tidak hanya dipakai dalam lingkungan keraton, namun juga dipakai di luar lingkungan keraton.

Ikat Kepala
Ikat kepala adalah kain batik yang digunakan kaum pria untuk melilit kepala. Ikat kepala dipakai dengan cara dililitkan sedemikian sehingga diperoleh bentuk ikat kepala yang diinginkan. Kain untuk ikat kepala berupa kain batik dengan motif dan ukuran khusus untuk ikat kepala.

Selendang
Kain selendang memiliki ukuran yang sama dengan kain kemben, tetapi memiliki motif yang lebih beragam. Kain selendang biasa dipakai oleh para wanita atau laki-laki, baik bayi maupun tua dari zaman dulu hingga sekarang. Cara pemakaian selendang bisa dengan diselempangkan atau disampirkan menurut selera si pemakai. Untuk bayi, selendang bisa digunakan sebagai lilitan (Jawa: bedhong) atau sebagai selimut.